Mengenal Kisah Cinta Sel Imun pada Sistem Pertahanan Tubuh Manusia
Menjalin sebuah
hubungan cinta dan rumah tangga tentu tidak mudah bukan? Ada pahit sepahit kopi
dan manis semanis madu yang menghiasi kehidupan sepasang kekasih. Ternyata, sel
sel imun dalam tubuh manusia melakukan interaksi yang sangat harmonis dan patut
kita contoh dalam memulai dan menjalin cinta kasih.
1. Ta'aruf dan Kecocokan
Sebelum memilih
pasangan, alangkah baiknya bila kita benar benar memilah dan memilih calon
pasangan kita. Tentunya berdasarkan landasan agama, ada beberapa aspek yang
perlu dipertimbangkan. Selanjutnya diperlukan perkenalan atau ta'aruf yang
dapat dilakukan dengan berbagai cara. Bila sudah sesuai dengan kriteria dan
cocok, jangan lupa untuk istikhoroh, meminta pada Sang Pemilik Cinta.
Rasulullah bersabda, “Jangan kamu menikahi
wanita semata-mata karena kecantikannya, boleh jadi kecantikannya itu akan
membinasakannya dan janganlah kamu menikahinya semata-mata karena hartanya,
boleh jadi harta itu akan menyebabkan kedurhakaannya, tapi nikahilah olehmu
yang beragama. Sesungguhnya wanita yang tak berhidung lagi tuli, tetapi
beragama lebih baik bagimu.” (Hadist Riwayat Abdullah bin Humaid).
Ternyata sel-sel
imun juga melalukan ta'aruf lho. Coba perharikan, bagimana bisa tubuh kita
dapat membedakan harus menyerang sel tubuh kita sendiri atau benda asing
seperti debu, virus, atau bahkan makanan? Tentu diperlukan adanya perkenalan
sehingga sel imun justru tidak menyerang tubuh sendiri dan menyebabkan penyakit
autoimun. Ketika bakteri atau virus menyerang tubuh manusia, ada suatu proses
di dalam sel yang bertugas untuk menyederhanakan komponen bakteri/virus atau
hanya mengambil bagian yang paling antigenic.
Lalu bagaimana? Apakah sudah selesai? Bagian antigenic inilah yang kemudian dikenalkan oleh APC (Antigen Presenting Cells) kepada sel T.
Jadi, tanpa adanya APC atau perantara, sel T tidak bisa mengenali antigen.
Begitu pula
dengan memulai suatu hubungan, kita dianjurkan untuk adanya perantara
seperti sahabat atau keluarga dari calon pasangan kita untuk mengetahui lebih
dalam tentang dirinya, bukan? Seperti halnya dalam suatu pepatah Arab:
عن المرء لا تسأل وسل عن قرينه فكل قرين بالمقارن يقتدي
Kembali ke
perkenalan antigen dengan sel T, bahwa tidak semua antigen bisa dikenalin oleh
sel T karena sistem pertahanan tubuh adaptive
bersifat spesifik yang artinya bila tidak ada kecocokan maka sel T tidak
memberikan response. Nah, dalam memulai hubungan tentu harus ada kecocokan,
sefrekuensi, dan setujuan bukan? atau dalam hukum fiqh disebut ka faah dengan beberapa penjelasan
detail dalam kitab kuning seperti Bughyatul Mustarsyidin karangan Sayyid Ba’alawi
Al-Hadhrami.
2. Kerjasama dan Sabar
Setelah dimulai
nya ikatan pernikahan, tentu tidak semudah yang ada di kisah cinta klasik dunia
dongeng, karena akan ada banyak masalah yang dihadapi. Mulai dari hal receh
tentang perbedaan pendapat, hal finansial yang terkadang menjadi ujian
terberat, atau adanya pihak ketiga yang mengancam hubungan rumah tangga.
Dalam sistem
pertahanan tubuh manusia, diperlukan kerjasama yang kuat juga antara sel sel
imun dalam melawan dan mempertahankan imunitas tubuh manusia. Sistem ini tidak
sesederhana yang kita bayangkan karena ternyata Allah telah mengatur betapa
kompleksnya sistem tersebut yang kemudian tanpa kita suruhpun untuk melawan
bakteri jahat, mereka sudah siap berperang.
Ada dua sistem
utama dalam imunitas tubuh, yakni bawaan (innate)
dan adaptive. Sistem imun bawaan adalah
sistem pertahanan pertama dan tidak bersifat spesifik, artinya semua benda
asing yang berbahaya akan dinetralisir oleh sistem yang saling bekerjasama,
seperti kulit, urin, air mata, keringat, cilia, asam, enzim, dan beberapa sel
imum dalam tubuh yang memakan patogen yakni seperti makrofag dan neutrofil. Sistem
pertahanan yang kedua, adaptive, bersifat
spesifik seperti yang sudah dijelaskan di atas. Antara sel B dan sel T memiliki
tugas nya masing-masing namun mereka saling bekerjasama dan membantu.
Pembagian tugas
dalam berumah tangga juga sangat penting dengan saling bekerja sama, bukan
hanya istri saja yang harus melakukan semua pekerjaan rumah tangga dan mengurus
anak. Peran suami dalam membantu pekerjaan rumah tangga juga dapat meningkatkan
keharmonisan dalam keluarga.

Komentar
Posting Komentar